Dari CCTV hingga Autopsi, Begini Jejak Kasus Kepala Cabang BRI Tewas Tragis

Keterangan Gambar : Kamis (21/8) malam, empat orang terduga pelaku ditangkap. Mereka berinisial AT, RS, RAH, dan RW. Tiga di antaranya dibekuk di Jakarta Pusat, sedangkan RW ditangkap saat hendak kabur ke NTT.(ist)


Zonakriminal24.blogspot.com(Jakarta),= Kasus penculikan dan pembunuhan Kepala Cabang Bank BRI, Mohamad Ilham Pradipta, terus menjadi sorotan publik. Polisi kini sudah menangkap delapan orang yang diduga terlibat, mulai dari penculik hingga otak perencana. Meski demikian, misteri motif pembunuhan masih belum terungkap jelas.


Rekaman CCTV yang sempat beredar luas di media sosial memperlihatkan detik-detik korban disergap di area parkir sebuah pusat perbelanjaan di Pasar Rebo, Jakarta Timur, pada Rabu (20/8) sore. Dalam rekaman, Ilham yang hendak masuk ke mobil hitamnya tiba-tiba dihampiri beberapa orang dari mobil putih yang terparkir di dekatnya. Ia sempat melawan, tapi akhirnya dipaksa masuk ke mobil tersebut.


Keesokan harinya, Kamis (21/8) pagi, warga di Desa Nagasari, Kecamatan Serang Baru, Kabupaten Bekasi, menemukan jasad seorang pria di tepi sawah. Tubuhnya dalam kondisi tangan dan kaki terikat serta mata ditutup lakban. Belakangan diketahui jenazah tersebut adalah Mohamad Ilham Pradipta. Jenazah kemudian dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk proses autopsi.


Hasil pemeriksaan dokter forensik menemukan adanya bekas luka akibat benda tumpul di dada dan leher korban. Kepala RS Bhayangkara Polri Kramat Jati, Prima Heru Yulihartono, menjelaskan korban diduga meninggal karena kesulitan bernafas setelah ada tekanan pada tulang leher dan dada.


“Ada tanda kekerasan pada tubuh korban, terutama di dada dan leher. Penyebab kematian karena kekurangan oksigen,” jelasnya. Ia menambahkan, hasil pemeriksaan toksikologi untuk memastikan ada atau tidaknya racun di tubuh korban masih menunggu waktu sekitar sepekan, dikutip dari BBC. 


Sejak kasus ini mencuat, polisi bergerak cepat. Pada Kamis (21/8) malam, empat orang terduga pelaku ditangkap. Mereka berinisial AT, RS, RAH, dan RW. Tiga di antaranya dibekuk di Jakarta Pusat, sedangkan RW ditangkap saat hendak kabur ke NTT.


Belakangan terungkap, RW bekerja sebagai debt collector di Jakarta. Polisi menyebut empat orang ini hanya bertugas menculik korban, bukan menghabisi nyawanya.


“Empat tersangka yang sudah diamankan ini yang menculik, bukan yang membunuh korban,” kata Kasubdit Reserse Ditreskrimum Polda Metro Jaya, Resa Fiardi Marasabessy.


Tak berhenti di situ, penyelidikan berlanjut hingga ke Solo, Jawa Tengah. Pada Sabtu (23/8) malam, tiga orang terduga aktor intelektual ditangkap di sana, masing-masing berinisial DH, YJ, dan AA. Sehari kemudian, tersangka berinisial C ditangkap di kawasan Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara.


“Saat ini, para tersangka sedang dilakukan pendalaman secara intensif,” kata Kasubdit Jatanras Polda Metro Jaya, Abdul Rahim.


Meski penangkapan demi penangkapan sudah dilakukan, motif pembunuhan Ilham masih gelap. Publik menduga peristiwa ini terkait pekerjaannya sebagai kepala cabang BRI, terutama soal isu kredit fiktif atau kecurangan keuangan. Namun, polisi belum berani memastikan.


Kriminolog Haniva Hasna menilai kasus ini terindikasi melibatkan jaringan terorganisasi. Ia menyebut adanya peran perantara, eksekutor, hingga otak perencana.


“Kalau empat orang pertama mengaku hanya menculik, berarti ada pihak lain yang memerintahkan dan mengeksekusi. Polisi harus mencari tahu siapa perantara para penculik itu,” ujarnya.


Haniva juga menyebut motif bisa beragam, mulai dari konflik pribadi, persaingan jabatan, hingga terkait pekerjaannya.


“Sebagai kepala cabang bank besar, korban pegang data-data sensitif, dokumen penting, dan punya kewenangan dalam persetujuan dana besar. Itu bisa jadi alasan kenapa ada pihak yang merasa terancam,” katanya. Ia menambahkan, cara pelaku membuang mayat di lokasi yang mudah ditemukan masyarakat juga bisa dibaca sebagai pesan tertentu.


Sementara itu, istri korban, Puspita Aulia, menuntut keadilan atas kematian suaminya.


“Suami saya itu orangnya baik, banyak yang memberikan kesaksian tentang kebaikannya. Tapi kenapa orang sebaik itu diperlakukan tidak baik sampai kehilangan nyawanya,” ucap Puspita.


Ia mendesak polisi agar menghukum para tersangka seberat-beratnya dan segera mengungkap motif di balik kasus ini.


Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, juga menyampaikan keprihatinan mendalam. Ia mengatakan pihaknya menyerahkan sepenuhnya kepada kepolisian untuk menelusuri motif pembunuhan.


“Apakah itu berkaitan dengan penagihan atau faktor lain, kita belum tahu. Polisi masih mendalami. Kalau ada perkembangan, kami akan update,” kata Hery.


Hingga kini, publik masih menanti jawaban siapa dalang sebenarnya dan apa motif yang membuat Mohamad Ilham Pradipta kehilangan nyawanya. Polisi memastikan penyelidikan akan terus dilanjutkan dengan menelusuri komunikasi digital dan kemungkinan adanya pihak lain yang terlibat.




Editor : jimmi

Sumber : bbc/pe

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama