Guru Viralkan Sekolah Dinding Triplek, Misharti Wakil Bupati Kampar Malah Semprot Guru Yang Viralkan.

Wakil Bupati Kampar, Misharti (baju merah), saat meninjau SDN 007 Sungai Agung, menemui Romawati (baju biru).


ZONAKRIMINAL24.COM|KAMPAR,- Niat hati memperlihatkan fakta di lapangan, Romawati seorang guru kelas jauh SDN 007 Sungai Agung, Tapung, Kampar justru memicu polemik.


Video yang diunggahnya memperlihatkan kondisi sekolah berbahan dinding triplek dengan fasilitas serba terbatas.


Imbas dari viralnya video tersebut, Wakil Bupati Kampar, Dr. Hj. Misharti, meninjau langsung kondisi sekolah dan menasihati Romawati.


Dalam rekaman yang beredar, Misharti meluapkan keberatannya atas unggahan tersebut.


“Sekolah ini dibikin secara swadaya. Sudah 22 tahun, tiba-tiba Ibu muncul, Ibu kasih tahu seolah salah pemerintah. Jadi kita juga enggak terima sebenarnya,” ungkap Misharti dalam video yang viral tersebut.


“Sementara kita enggak tahu di sekolah ini ada. Makanya kepala dinas ditanyain, enggak ada. Saya ditanyain itu, saya bilang, minta kepala dinas cek kondisinya terlebih dahulu, baru laporkan. Nah, setelah itu baru kita bicarakan. Saya enggak enak saja, karena yang dididik ini anak-anak kita, masyarakat Kampar,” tegasnya.


Fasilitas Pendidikan Tanggung Jawab Pemda


Ia menambahkan bahwa kondisi fasilitas pendidikan sebenarnya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah, namun ia tak ingin publik salah paham. “Tanggung jawab kami, Bupati, tanggung jawab kita. Jadi orang berprasangka kami pemerintah ini tutup mata, tidak peduli. Padahal kan enggak begitu persoalannya,” pungkas Misharti.


Usai pertemuan tersebut, Romawati menyampaikan klarifikasi bahwa fasilitas tempatnya mengajar memang berstatus kelas jauh dari SDN 007 Sungai Agung, alih-alih sekolah induk.


“Saya Ibu Romawati, mau mengklarifikasi video saya yang sempat viral di TikTok. SD 007 Sungai Agung itu sebenarnya bukan SD induk, melainkan kelas jarak jauh,” ungkap Romawati. “Kondisi sekolah kami seperti ini sudah 22 tahun. Memang sekolah ini tidak terdaftar resmi di Dinas Pendidikan, sehingga pemerintah kabupaten tidak mengetahui keberadaannya.”


Romawati, Guru Honorer yang Mengabdi 22 Tahun


Di balik polemik video viral tersebut, tersimpan kisah panjang pengabdian Romawati yang memilukan sekaligus menginspirasi. Selama kurang lebih 22 tahun, ia mendedikasikan hidupnya sebagai guru honorer untuk mendidik anak-anak di daerah tertinggal. Sejak berdiri pada 19 Juli 2004, ia menjadi salah satu pionir yang ikut membuka dan merintis sekolah tersebut dari nol.


Sebelum mengabdi di Riau, Romawati pernah mengajar di SD Melidi, daerah tertinggal di Aceh. Rekam jejak pengabdiannya dipenuhi perjuangan fisik dan finansial. Pada masa awal SDN 007 Sungai Agung berdiri, ia hanya mengandalkan honor dari BP3 sebesar Rp20 ribu per siswa setiap bulan. Total 20 murid, penghasilannya saat itu tak lebih dari Rp400 ribu per bulan.


Keterbatasan dana tidak menyurutkan langkahnya. Pendapatan yang minim tersebut, Romawati bahkan merogoh kocek pribadi untuk menyokong operasional sekolah, mulai dari membeli kapur, alat tulis kantor (ATK), hingga mengurus laporan ke dinas terkait. Minimnya tenaga pengajar juga memaksa Romawati harus mengajar sendirian untuk lima kelas sekaligus selama setengah tahun pertama tanpa pegangan buku pelajaran resmi dari pemerintah.


Hingga kini, status Romawati masih tertahan sebagai guru honorer karena kualifikasi pendidikannya yang berijazah SMA sederajat. Kendala ekonomi keluarga ditambah beban merawat suaminya yang mengidap sakit lambung akut selama lima tahun terakhir membuat niatnya untuk melanjutkan studi ke jenjang S1 selalu tertunda.


Meski begitu, ia mengaku bangga melihat deretan alumni muridnya yang kini berhasil meraih gelar sarjana hukum, sarjana pendidikan, hingga menjadi bidan. Di balik dinding triplek yang lapuk, Romawati menyimpulkan harapan agar pemerintah tergerak untuk melihat pengabdiannya.


“Saya hanya berharap pemerintah dapat melihat dan mempertimbangkan pengabdian kami. Itu saja kisah saya sedikit mengenai membangun sekolah dari awal sampai sekarang, ya mudah-mudahan saya sangat berharap ke depannya saya dapat bantuan dari pemerintah baik pengangkatan P3K ataupun PNS, itu harapan saya kepada pemerintah,” tutur Romawati.



Editor   : Redaksi

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama